Terkait Sengketa Pilkades, Ratusan Warga Segel Kantor DPMD OKI

  • Whatsapp
Ratusan warga yang menamakan diri Aliansi Masyarakat Peduli Pilkades sambangi kantor Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Pemerintahan Desa Kabupaten OKI (DPMD), Senin (8/11).

OKI, BERANDA INFORMASI – Kantor Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Pemerintahan Desa (DPMD) Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) disegel oleh ratusan warga yang menamakan diri sebagai Aliansi Masyarakat Peduli Pilkades, Senin (8/11).

Berdasarkan pantauan di lapangan, dalam aksi tersebut, masyarakat meminta agar Kepala DPMD OKI Nursula S.Sos untuk keluar dari kantor guna menanggapi tuntutan mereka. Namun, Sekretaris DPMD OKI, Kanapi, yang keluar mewakili.

“Terima kasih kepada bapak-bapak atau ibu-ibu sekalian yang telah menyampaikan aspirasinya. Kewajiban saya hanya menerima aspirasi dan nanti akan saya sampaikan ke pimpinan,” ucapnya.

Namun, masyarakat yang mendengar jawaban tersebut malah berteriak sudah tidak mau menunggu lagi, karena mereka sudah sekitar satu bulan menyampaikan keluhan tersebut, tetapi belum ada jawaban. Sehingga itulah yang memicu masyarakat melakukan penyegelan.

Jaini, salah satu calon Kades Karang Agung Kecamatan Jejawi yang turut serta dalam kegiatan tersebut mengatakan, sebetulnya permintaan mereka ialah penyelesaian terhadap kecurangan pada pilkades lalu, khususnya di Desa Karang Agung.

“Jadi surat suara kita sebanyak 215 yang dianggap rusak, padahal di dalam Perbub sah. Karena pencoblosannya secara simetris. Tapi panitia pilkades tidak mengesahkan,” ungkap dia.

Ditambahkan dia lagi, sesuai dengan undangan-undang pilkades, mereka sudah melayangkan surat atau sanggahan. Tetapi setelah sebulan diajukan, tidak ada sama sekali informasi yang didapat dari DPMD.

Sementara itu, Kepala DPMD OKI, Nursula menuturkan, seharusnya masyarakat tidak bertindak seperti itu. Karena menurutnya, kalau ingin menyegel kantor, aktivitas kantor tidak bisa dihentikan.

“Namanya juga di dalam perkantoran. Seharusnya kalau memang tidak senang dengan pimpinannya, kenapa tidak berhentikan pimpinan saja, istilahnya,” ujar Nursula ditemui di kantor oleh wartawan, sembari mengaku saat kejadian demo dia masih dalam perjalanan.

Dikatakannya lagi, masyarakat yang mendatangi kantor mereka hari ini berasal dari tujuh desa, diantaranya Desa Bukit Batu Kecamatan Air Sugihan, Desa Tanjung Batu dan Desa Simpang Tiga Makmur Kecamatan TulungĀ  Selapan.

Kemudian, Desa Jermun Kecamatan Pampangan, Desa Sungai Jeruju Kecamatan Cengal, Desa Karang Agung Kecamatan Jejawi dan Desa Mataram Jaya Kecamatan Mesuji Raya.

“Ketujuh desa inikan memang sudah melayangkan surat atas keberatan. Tetapi, kita atas keberatan terhadap yang tidak sah itu, tidak bisa langsung memutuskan atau membolehkan mereka untuk menghitung ulang suara yang tidak sah tersebut,” jelasnya.

Sedangkan, menurutnya juga, mereka sudah mengundang panitia, BPD, ketua TPS, bahkan termasuk saksi pada desa-desa yang bersangkutan dan telah melakukan mediasi bersama pada sebelumnya.

“Kemudian saksi mereka ini mengiyakan pada hari H, buktinya pelaksanaan pilkades ini kondusif. Namun seharusnya, saksi-saksi ini kalau ada yang merasa janggal harusnya melakukan protes pada saat itu,” jelasnya.

Dilanjutkan dia, dimana pihak DPMD sendiri sudah melakukan sosialisasi dan para saksi dibekali pada saat pembinaan, supaya mereka mengkritisi.

“Namun, ternyata para saksi ini hanya mengiyakan saja apa yang dimusyawarahkan di lapangan. Dimana mereka inikan punya kesepakatan bahwa mencoblos lebih dari satu lubang dianggap tidak sah, termasuk simetris. Ini sudah disosialisaikan sebelum penghitungan,” tutupnya. [Umar]

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *